
KARANGANYAR - Gunung Lawu berdiri kokoh di tiga kabupaten dan jadi pemisah antara Jawa Tengah dan Timur. Tiga kabupaten tersebut meliputi Karanganyar (Jawa Tengah), Megatan dan Kabupaten Ngawi (Jawa Timur).
Gunung dengan ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut ini selalu dikaitkan dengan kisah-kisah mistis. Pasalnya, selain menjadi sasaran para pencinta alam, gunung ini kerap didatangi masyarakat yang percaya kegiatan-kegiatan supranatural, seperti bertapa.
Gunung Lawu dahulunya bernama Wukirmahendra dan berjuluk gunung seribu satu kisah karena begitu banyak cerita mengenai gunung ini. Gunung ini juga dijuluki pakunya Pulau Jawa.
Pendakian Gunung Lawu dapat melalui tiga jalur, yakni Cemoro Kandang di Blumbang, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar; Cemoro Sewu di Magetan, Jawa Timur; lalu Candi Cetho di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.
Jalur Candi Cetho merupakan yang paling banyak kisah mistisnya. "Bila Gunung Lawu diibaratkan sebuah rumah, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu bukan pintu masuk. Pintu masuk utama ke Gunung Lawu itu di atas Candi Cetho, Ngargoyoso," papar Kepala Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso, Suparno saat berbincang dengan Okezone, Selasa (17/10/2017).
Menurut Suparno, Candi Cetho ini menjadi jalur yang paling ditakuti, meski yang tercepat menuju puncak bila dibanding melalui Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Selain karena mistis, beberapa area di jalur pendakian pun cukup terjal.
"Begitu memutuskan mendaki melalui jalur ini, sudah dihadapkan dengan medan yang sangat terjal. Bila lengah sedikit saja, bisa terjatuh jurang," jelas Suparno.
Tak hanya medan yang sulit, jalur pendakian Candi Cetho paling sering berkabut. Ditambah banyak cekungan-cekungan, yang membuat pendaki bingung hingga akhirnya tersesat. Di jalur pendakian ini juga terdapat sabana luas yang biasa disebut pasar setan.
Di tempat itu, sejumlah pendaki mengaku pernah mendengar suara riuh layaknya di pasar. Bahkan ada yang menawarkan barang-barang. Konon bila mendengar suara tersebut, pendaki harus membuang apa saja di sana, layaknya sedang bertransaksi jual beli di pasar.
"Yang disebut para pendaki sebagai pasar setan, sebenarnya sebuah lahan di lereng Gunung Lawu yang penuh dengan ilalang. Angin di sana berhembus cukup kencang. Jadi akibat tiupan angin, menimbulkan suara-suara seperti orang bertransaksi," terangnya.
Di sisi lain, Gunung Lawu termasuk dalam kategori 'gunung tidur' karena sudah lama sekali tidak menujukkan aktivitas vulkanik meski berstatus gunung api. Gunung Lawu masuk jajaran tujuh puncak tertinggi di Pulau Jawa.
Salah satu tokoh yang paham seluk beluk Gunung Lawu, Polet -biasa disapa Pak Po-, tak menampik Gunung Lawu merupakan gunung penuh misteri. "Sampai sekarang, Lawu itu belum terungkap misteri atau jati dirinya. Contoh yang paling nyata sampai sekarang tidak pernah ditemukan kuburan eyang Lawu & Sunan Lawu," jelasnya.
Selain kisah misteri di jalur Candi Cetho, ada pula cerita mengenai burung jalak misterius di Gunung Lawu, bernama kyai jalak lawu. Konon, burung itu jelmaan dari Kyai Jalak yang merupakan abdi dalem setia Prabu Brawijaya V yang dulunya ditugaskan menjaga Gunung Lawu.
