cantik

Tampilkan postingan dengan label kisah-mistis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah-mistis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2019

KISAH MISTERI: Menguak Misteri Gunung Lawu, Pasar Setan hingga Kabut yang Muncul Tiba-Tiba

https://news.okezone.com/read/2017/10/17/512/1797345/kisah-misteri-menguak-misteri-gunung-lawu-pasar-setan-hingga-kabut-yang-muncul-tiba-tiba?page=3


KARANGANYAR - Gunung Lawu berdiri kokoh di tiga kabupaten dan jadi pemisah antara Jawa Tengah dan Timur. Tiga kabupaten tersebut meliputi Karanganyar (Jawa Tengah), Megatan dan Kabupaten Ngawi (Jawa Timur).

Gunung dengan ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut ini selalu dikaitkan dengan kisah-kisah mistis. Pasalnya, selain menjadi sasaran para pencinta alam, gunung ini kerap didatangi masyarakat yang percaya kegiatan-kegiatan supranatural, seperti bertapa.


Gunung Lawu dahulunya bernama Wukirmahendra dan berjuluk gunung seribu satu kisah karena begitu banyak cerita mengenai gunung ini. Gunung ini juga dijuluki pakunya Pulau Jawa.

Pendakian Gunung Lawu dapat melalui tiga jalur, yakni Cemoro Kandang di Blumbang, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar; Cemoro Sewu di Magetan, Jawa Timur; lalu Candi Cetho di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Jalur Candi Cetho merupakan yang paling banyak kisah mistisnya. "Bila Gunung Lawu diibaratkan sebuah rumah, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu bukan pintu masuk. Pintu masuk utama ke Gunung Lawu itu di atas Candi Cetho, Ngargoyoso," papar Kepala Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso, Suparno saat berbincang dengan Okezone, Selasa (17/10/2017).

Menurut Suparno, Candi Cetho ini menjadi jalur yang paling ditakuti, meski yang tercepat menuju puncak bila dibanding melalui Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Selain karena mistis, beberapa area di jalur pendakian pun cukup terjal.

"Begitu memutuskan mendaki melalui jalur ini, sudah dihadapkan dengan medan yang sangat terjal. Bila lengah sedikit saja, bisa terjatuh jurang," jelas Suparno.


Tak hanya medan yang sulit, jalur pendakian Candi Cetho paling sering berkabut. Ditambah banyak cekungan-cekungan, yang membuat pendaki bingung hingga akhirnya tersesat. Di jalur pendakian ini juga terdapat sabana luas yang biasa disebut pasar setan.

Di tempat itu, sejumlah pendaki mengaku pernah mendengar suara riuh layaknya di pasar. Bahkan ada yang menawarkan barang-barang. Konon bila mendengar suara tersebut, pendaki harus membuang apa saja di sana, layaknya sedang bertransaksi jual beli di pasar.


"Yang disebut para pendaki sebagai pasar setan, sebenarnya sebuah lahan di lereng Gunung Lawu yang penuh dengan ilalang. Angin di sana berhembus cukup kencang. Jadi akibat tiupan angin, menimbulkan suara-suara seperti orang bertransaksi," terangnya.

Di sisi lain, Gunung Lawu termasuk dalam kategori 'gunung tidur' karena sudah lama sekali tidak menujukkan aktivitas vulkanik meski berstatus gunung api. Gunung Lawu masuk jajaran tujuh puncak tertinggi di Pulau Jawa.

Salah satu tokoh yang paham seluk beluk Gunung Lawu, Polet -biasa disapa Pak Po-, tak menampik Gunung Lawu merupakan gunung penuh misteri. "Sampai sekarang, Lawu itu belum terungkap misteri atau jati dirinya. Contoh yang paling nyata sampai sekarang tidak pernah ditemukan kuburan eyang Lawu & Sunan Lawu," jelasnya.

Selain kisah misteri di jalur Candi Cetho, ada pula cerita mengenai burung jalak misterius di Gunung Lawu, bernama kyai jalak lawu. Konon, burung itu jelmaan dari Kyai Jalak yang merupakan abdi dalem setia Prabu Brawijaya V yang dulunya ditugaskan menjaga Gunung Lawu.



Selasa, 22 Oktober 2019

Maut di Ketinggian Sunyi (gunung salak tahun 1987)




sumber : https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000006682719/maut-di-ketinggian-sunyi-gunung-salak-tahun-1987/


21 Maret 1987
Maut di ketinggian sunyi

HINGGA Selasa pagi pekan itu, dua liang masih menganga terbuka di Taman Pemkaman Umum (TPU) Penggilingan, Rawamangun, Jakarta. Itulah pertanda bahwa Irvan Supandi dan Ahmad Rudiat masih berada jauh tinggi di sana, di Gunung Salak, entah mati entah hidup. Itu juga berarti ratusan pecinta alam masih terus menyusur Sungai Cibadak di gunung itu, tempat jenazah rekan mereka -- yang sudah mengisi empat kuburan baru di sebelah kedua liang kosong tadi -- ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Sebuah akhir cerita hidup yang menyedihkan, memang. Padahal, tak ada firasat buruk muncul di awal pendakian nahas ini. Ia bermula ketika delapan siswa kelas dua STM Pembangunan Jakarta Timur mencari ide untuk mengisi hari libur yang tiba-tiba menubruk mereka. Pasalnya, pada hari Jumat, 20 Februari lalu itu, sekolah mereka kebanjiran hingga tak ada kegiatan belajar. Ditambah lagi keesokan harinya para guru berniat mengadakan rapat, yang menyebabkan murid bebas belajar. Wajar jika di pagi itu tiba-tiba muncul ide untuk mendaki Gunung Salak keesokan harinya. Secara spontan, perencanaan pun didiskusikan dan kata sepakat dicapai untuk berkumpul di depan sekolah esok harinya, pukul 8 pagi. Adalah nasib jua yang membuat Yumarsanto, 17, ternyata terlambat bangun. Toh ia masih mencoba pergi ke tempat rendezvouz tersebut. Tapi ia cuma menjumpai tukang mi langganan mereka, yang menginformasikan bahwa ia telah ditinggal. Belakangan, Yumarsanto mengetahui ia tak sendirian. Boyke Zulkarnaen, yang tadinya juga merencanakan berangkat, ternyata, urung ikut. Alhasil, hanya 6 orang yang berangkat: Ahmad Rudiat, 19, Chaerudin, 18, Eddy Pujianto, 18, Irvan Supandi, 16, Mulyadi, 19, dan Wisnu Herwanto, 18. Besar dugaan, Ahmad Rudiat alias Adit menjadi pemimpin tak resmi rombongan ini. "Kata teman-temannya, ia memang paling berpengaruh," tutur Djukardi Adriana alias Bongkeng, anggota Wanadri yang menjadi on scene commander operasi SAR di Gunung Salak ini. Adit memang punya modal untuk memimpin. Hanya dia dan Mulyadi yang anggota resmi pecinta alam di sekolah mereka, karena itu berhak memakai syal segitiga biru berinisial klub itu. Lagi pula, ia berpengalaman mendaki Gunung Cermai di Cirebon dan Gunung Gede--Pangrango di kawasan Puncak. Hingga, ayahnya pun Letkol Drs. A.R Sabirin, mudah saja memberi izin anaknya mendaki Gunung Salak kendati istrinya keberatan. "Dia cuma minta uang Rp 6.000 dan bilang hari Minggu sudah pulang," kata Sabirin. Agaknya, kepemimpinan Adit yang dibantu Mulyadi ini yang menyebabkan rombongan kemudian memilih jalur pendakian yang tak umum. Alasannya, memang, khas anak muda. Mereka tampaknya ingin membuat jalur pendakian baru menuju pancuran tujuh, yaitu air terjun dekat puncak Gunung Salak yang masih jarang dikunjungi orang. Mulyadi pernah merintis rute ini, Desember 1986, tapi sampai di pancuran ketiga kehabisan perbekalan. Maka, terpaksa perintisan rute ditangguhkan dan rombongan Mulyadi saat itu turun kembali. Tapi mereka sempat meninggalkan tanda berupa ikatan tali rafia biru di pohon yang mereka lalui. Rencananya, klub STM mereka yang bernama Teknik Pembangunan Pencinta Alam (Tepepa) akan melanjutkan penelusuran. Ketua Tepepa, Kelly Daryono, merencanakan melakukan ekspedisi ini sehabis pemilu nanti, dan rute itu akan di namakan rute STM Pembangunan. Ada dugaan, rombongan Adit dkk. ini ingin mendahului Kelly. Maklum, menurut rekan-rekan mereka, kedua siswa ini memang bersaing. Sayangnya, semangat kompetitif yang sehat itu tak didukung persiapan yang matang. Perlengkapan mereka sangat tak memadai untuk ekspedisi membuka jalur baru: tak ada kompas, pakaian, dan makan yang mencukupi. "Yang paling fatal, sebagai pendaki yang ingin menemukan rute baru, mereka tak membawa peta," kata Bongkeng. Perbekalan diperkirakan hanya disiapkan untuk dua hari, sedangkan pakaian pelindung hujan terabaikan. Mulyadi, misalnya, berangkat dalam pakaian seragam sekolah dan tak membawa jaket. Belakangan terbukti, hal yang kelihatan sepele ini menjadi penyebab utama perjumpaan mereka dengan sang maut. Padahal, medan Gunung Salak tergolong sulit. Banyak


Baca juga : https://hot.liputan6.com/read/3996672/pria-ini-ceritakan-pengalaman-mistis-naik-bus-hantu-bekasi-bandung-seram-banget